Jumat, 29 April 2011

CORPORATE CULTURE AN D SHAREHOLDER VALUE IN BANKING INDUSTRY

by : Alessandro Carretta


Abstract*
This paper analyses the casual relationship between corporate culture and shareholder value using a sample of
large banks in the French, German, Italian and U.K. banking systems over the 2000 to 2003 period. Firstly, we measure shareholder value using an Economic Value Added estimated through a procedure tailored to account for banking peculiarities. Secondly, we measure corporate culture using language as its particular artifact and developing a cultural survey based on the application of a text-analysis model to a corpus of reference texts produced by the sample of banks. We posit six hypotheses regarding the relationship between corporate culture and bank profits and shareholder value. Our results noticeably show that bank profits and shareholder value benefit from different orientations of banking corporate culture.
JEL classification: G21, D24, M14
Keywords: Shareholder value, Economic Value Added (EVA), Corporate culture, Text analysis.

1. INTRODUCTION
This paper empirically investigates the relationship between bank performance and corporate culture in European banking using a sample of quoted banks over the 2001 to 2003 period. There is a substantial literature dealing with bank performance and shareholder value1, but only few studies attempted to see to an empirical analysis of the relationship with business conditions that may lead to the creation of shareholder value.
A number of studies (Beccalli, Casu, Girardone, 2006; Fernández, Gascón, González, 2002; Eisenbeis, Ferrier, Kwan, 1999; Chu, Lim, 1998) have sought to link measures of bank productive efficiency to stock returns, generally finding a positive relationship. However these studies do not really tell us much about the determinants of shareholder value creation as cost of capital considerations are, typically, ignored. A second shareholder value determinant is customer satisfaction: the link between customer satisfaction and shareholder value creation has also been identified in the theoretical literature (Bauer, Hammerschimidt, 2005) and empirically investigated with respect to non-financial companies (Van der Wiele, Boselie, Hesselink, 2001) yet only one study (Loveman, 1998) provides evidence about how employee satisfaction and customer loyalty positively influence bank performance (using data from branches of a large U.S. regional bank). Others have investigated the relationship between operational risk and bank stock price reactions (Cummings, Lewis, Wei., 2004) and the role played by corporate risk management in the shareholder value creation process (Bartram, 2000 and 2002). Overall, however, it can be seen that the extant empirical literature on the determinants of shareholder value creation in banking is somewhat esoteric and limited.
Following Schein (1985), the corporate culture is defined as a set of shared norms and values expressed in terms of common language, shared coding procedures and shared knowledge. The hypothesis that corporate culture is a . . . ..(baca_selengkapnya)  

Artikel lengkap dikompilasi oleh/hubungi :
Kanaidi, SE., M.Si
(Penulis, Peneliti, PeBisnis, Trainer dan Dosen Marketing Management)

Perlu Artikel lain ?, click di:

PENGARUH BUDAYA PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN STUDI KASUS di MARGARIA GROUP

oleh : Muhammad Ridwan Jauhari
2006


Abstraksi
Kesuksesan kinerja manajemen dapat terjadi karena adanya pengendalian manajemen yang tepat. Dalam proses tersebut manajemen menitik beratkan pada perencanaan strategis, anggaran, umpan balik, ataupun evaluasi untuk merealisir rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Proses tersebut disebut juga pengendalian secara formal, sedangkan pengendalian secara infomal dilakukan melalui budaya perusahaan.
Budaya perusahaan adalah salah satu alat pengendalian perilaku anggota organisasi supaya berperilaku, berpikir, dan menyelesaikan masalah sesuai kebutuhan organisasi. Singkat kata, budaya perusahaan dapat mendesain perilaku sesuai kebutuhan bisnis perusahaan sehingga mampu mendorong kinerja perusahaan.
Penelitian ini berakar pada metodologi interpretif, dimana organisasi dipandang sebagai sebuah konstruksi sosial yang terdiri dari interaksi orang-orang yang terdapat di organisasi tersebut, dengan lain perkataan organisasi merupakan sebuah budaya karena terdapat social interaction antara masyarakat yang terdapat didalam organisasi tersebut.
Sedangkan untuk memahami suatu budaya diperlukan pendekatan tertentu yang dapat mengungkap makna-makna tersembunyi di dalamnya. Pendekatan seperti dimaksud diatas adalah etnografi enterpretif. Ada ungkapan yang menjelaskan esensi etnografi, “kalau anda melihat riak gelombang, etnografi menyelami dalamnya dasar lautan”.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Efektivitas perusahaan tergantung oleh berbagai faktor salah satunya yaitu aspek manusia. Keberhasilan dan kemunduran suatu perusahaan juga tidak lepas dari aspek manusia tersebut, sehingga menjadi pokok perhatian dari sistem pengendalian manajemen. Alloh SWT dalam beberapa ayatnya juga menjelaskan tentang sisi negatif manusia.
Akhirnya pihak manajemen perusahaan mencari akar permasalahannya, ternyata permasalahannya bersumber dari keterbukaan komunikasi di perusahaan tersebut sehingga dianggap ora elok oleh sebagian karyawan karena mereka masih memegang erat nilai ewoh-pakewoh dalam kehidupan bermasyarakat. Pada akhirnya keterbukaan komunikasi tersebut dianggap trocoh dan nylekuthis. Trocoh berarti penggunaan kata-kata vulgar dalam percakapan sedangkan nylekuthis berarti tidak bisa menempatkan sesuatu hal secara pas (Endraswara, 2003, h 34-5). Kedua anggapan tersebut di mata karyawan bisa menjatuhkan harga diri dan sebagai wujud protes kepada perusahaan mereka tidak bekerja maksimal.
Budaya perusahaan merupakan tema yang menarik untuk dibahas lebih mendalam. Fenomena budaya perusahaan marak diperbincangkan oleh para ahli sekitar tahun 1980-an. Awal mula pembahasan budaya perusahaan setelah munculnya tulisan Andrew Pettigrew yang berjudul “on studying organizational culture” yang dimuat administrative science quartely pada tahun 1979 (Sobirin, 1997). Tulisan Andrew Pettigrew membawa perubahan paradigma dalam memandang organisasi tidak hanya dari aspek formalnya saja namun terdapat aspek informal yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kinerja perusahaan.
Kemudian apa keterkaitan antara budaya perusahaan dangan kinerja perusahaan. Budaya perusahaan merupakan sistem kontrol sosial didalam organisasi sehingga anggota organisasi tersebut mempunyai satu kebudayaan yang relatif sama. Dengan kebudayaan yang relatif sama tersebut diharapkan berdampak pada perilaku dan ways of thinking para anggota yang lain. Pada akhirnya tujuan perusahaan akan dapat lebih efektif karena perusahaan berhasil menciptakan pengendalian sistem sosial terhadap anggotanya melalui budaya perusahaan.
Ary Ginanjar Agustian (2002, h 161-162) menyatakan bahwa perusahaan harus memiliki . . . . ..(baca_selengkapnya)  
 
Artikel lengkap dikompilasi oleh/hubungi :
Kanaidi, SE., M.Si
(Penulis, Peneliti, PeBisnis, Trainer dan Dosen Marketing Management)

Perlu Artikel lain ?, click di:


Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi Dan Kepuasan Kerja Serta Kinerja Karyawan Pada Sub Sektor Industri Pengolahan Kayu Skala Menengah Di Jawa Timur

Oleh : Teman Koesmono
(Publikasi pada : JURNAL MANAJEMEN & KEWIRAUSAHAAN, VOL. 7, NO. 2, SEPTEMBER 2005: 171-188)

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini untuk memenemukan bagaimana besarnya pengaruh Budaya Organisasi terhadap Motivasi, Kepuasan Kerja dan Kinerja karyawan khususnya karyawan dibagian produksi. Unit analisisnya adalah karyawan produksi pada subsektor industri pengolahan kayu di Jawa Timur.
Secara positif perilaku seseorang akan berpengaruh terhadap kinerjanya, disamping itu peneliti menguji hipotesis bahwa motivasi berpengaruh kepada kepuasan kerja dan kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja. Hasilnya bahwa secara langsung motivasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja sebesar 1.462 dan motivasi berpengaruh terhadap kinerja sebesar 0.387, kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja sebesar 0,003 dan budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja sebesar 0.506, budaya organisasi berpengaruh terhadap motivasi sebesar 0.680 dan budaya organisasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja sebesar 1.183. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti berikutnya, sebagai bahan penelitian pada bidang ilmu pengetahuan perilaku organisasi atau ilmu pengetahuan yang sejenisnya.
Kata kunci: budaya organisasi, motivasi, kepuasan kerja, kinerja dan perilaku manusia.

PENDAHULUAN
Salah satu masalah nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah penanganan terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia. Jumlah sumber daya manusia yang besar apabila dapat didayagunakan secara efektif dan efisien akan bermanfaat untuk menunjang gerak lajunya pembangunan nasional yang berkelanjutan. Melimpahnya sumber daya manusia yang ada saat ini mengharuskan berfikir secara seksama yaitu bagaimana dapat memanfaatkan sumber daya manusia secara optimal. Agar di masyarakat tersedia sumber daya manusia yang handal diperlukan pendidikan yang berkualitas, penyediaan berbagai fasilitas sosial, lapangan pekerjaan yang memadai. Kelemahan dalam penyediaan berbagai fasilitas tersebut akan menyebabkan keresahan sosial yang akan berdampak kepada keamanan masyarakat. Saat ini kemampuan sumber daya manusia masih rendah baik dilihat dari kemampuan intelektualnya maupun keterampilan teknis yang dimilikinya.
Persoalan yang ada adalah bagaimana dapat menciptakan sumber daya manusia yang dapat menghasilkan kinerja yang optimal sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Produktivitas kerja merupakan tuntutan utama bagi perusahaan agar kelangsungan hidup atau operasionalnya dapat terjamin. Produktivitas suatu badan usaha dapat memberikan kontribusi kepada .........(baca_selengkapnya)  


Artikel lengkap dikompilasi oleh/hubungi :
Kanaidi, SE., M.Si
(Penulis, Peneliti, PeBisnis, Trainer dan Dosen Marketing Management)

Perlu Artikel lain ?, click di: